Selasa, 22 Desember 2009

Aku Bahagia Menjadi Ibu...

Teringatku betapa bahagianya saat pertama mengetahui diriku hamil. Sejuta rasa bahagia yang tak tergambarkan. Aku akan menjadi seorang IBU. Kujalani masa kehamilan selama sembilan bulan mengandung itu dengan sukacita tak tertara...merasakan berkembangnya kehidupan bermula di dalam tubuhku. Walaupun bentuk tubuhku menjadi mengembang ke samping... Ga pa pa.. Teteup sexy kok.. kata suamiku menghibur...he..he..*_^

Saat melahirkan merupakan pengalaman yang sangat mendebarkan... Keinginanku yang sangat kuat untuk dapat melahirkan secara normal. Perjuangan berhari-hari mengalami induksi untuk mempermudah kelahiran (Anak pertama induksi 10 jam, Anak Kedua induksi lebih 30 jam, Anak ketiga 4 hari diinduksi) terbayar lunas saat tubuh sang bayi merah yg montok dan kenyal di taruh di perutku. Rasa haru tak terkira saat dokter memotong tali pusarnya. Rasa bahagia yang membuncah saat Anakku menangis keras dan suamiku mengazankannya.
Akhirnya aku punya Anak...resmilah aku menjadi wanita sempurna.

Kutimang bayiku, kuberikan ASIku.. Kusayangi dia sepenuh hatiku.. Kujaga dia lebih baik daripada menjaga diriku sendiri... Rasa lelah harus bangun malam, kesakitan yg dirasakan saat menyusuinya tidak sebanding dengan Kegembiraan yang diberikan makhluk manis dari Surga itu... Pantaslah Dia disebut Qurrata 'Ayun.. Pencerah mata... Semoga kalian menjadi anak yang Shaleh dan Sholehah anak-anakku..
Semoga Ayah dan Ibumu bisa menjaga dan mendidik amanah Allah ini dengan baik...Amin
$
Sheraton Bandara, 22 Desember 2009
@

Jumat, 04 Desember 2009

Tentang Nadhira


"Mammy...mammy...hari ini ga kemana-mana kan?" Tanya Nadhira, putri bungsuku..

"Kenapa Dek?" Tanyaku..

"Ga kenapa-napa...Adek pengen manja-manja aja sama Mammy" jawab Nadhira polos..

Dukk.. Gimana gitu rasanya.. Kuciumin pipi gembil si Manis yg memanggilku Mammy.. Sementara kakak-kakaknya memanggilku Ibu...

Cerita yang lain lagi...Suatu kali saat aku sedang menyisiri rambut kusutnya..saat rambutnya sedikit tertarik..Nadhira menjerit "Aww..Mammy sudah menyakiti perasaan Adek..".. Deuuu..Nadhira..Nadhira..

Belum lagi, celotehannya kepada ayahnya yg tidak akan pernah bisa berangkat kerja sebelum diajak jajan ke Indomaret dekat rumah "Beli permen kapas dulu...baru Ayah boleh pergi kerja"..Di Indomaret tahu ga yg dibeli apa? Ya permen kapas seharga 2000rp itu sebanyak 3 bungkus..

"Kok cuma 3 Dek?" Tanya Ayah

"Satu buat Kakak, satu buat Abang, Satu buat Adek" Katanya sambil matanya mengerling indah..

Luar biasa pengetahuan kosa kata yg dimiliki Nadhira.. Beberapa kali sudah kata2nya membuatku tercengang...akhirnya tersenyum geli..he..he..

Dari mana dia bisa punya kosa kata seperti itu...he..he.. Asli..rumahku sudah bersih dari sinetron.. Tontonan si Cantik sehari-hari..Baby TV, Disney Channel dan CeeBeBees..yg bisa ditonton dalam dua bahasa.. Inggris dan Indonesia. Menurutku translate Bahasa Indonesianya cukup baik, beberapa acara juga sangat menarik dan sarat dengan pendidikan budi pekerti.. Dibo the Gift Dragon, Lola dan Charlie, Mama Mirable, Mr. Maker..Boogies BeeBees juga sarat dengan permainan kreatif..

Hanya saja peruntukkan kata-kata tersebut yg belum tepat digunakan si Cantik..

Hmmm...tapi celotehan-celotehanmu itu sayang telah membuat Ayah dan Ibumu ini selalu tersenyum, rasa lelah sepulang kerja sirna dengan senyum manismu yg selalu menyambut kepulangan Ayah dan Ibu...:)

Ibu sayang sekali padamu Nak..:)

Kamis, 03 Desember 2009

KUCING (Puisinya Ravi)

Malam ini Ravi (7th Kelas 3 SD Citra Alam Ciganjur) bercerita, tadi siang belajar membuat puisi dan membacanya di depan kelas. Puisinya begini :

Kucing... Kau suka mengejar tikus..
Kucing... Kau suka mainan..
Kucing... Kau suka makan tikus...
Kucing... Kau suka makan ikan..

(Udah...selesai deh...)

Sabtu, 28 November 2009

Menunggu New Moon...

Mengapa banyak sekali tanya..
Seribu kata apa..
Mengapa...
Kenapa...

Tak ingin ku menduga..
Tapi hati ini selalu ingin berkata..
Membuat impianku hampa...
Membuat asaku nestapa..

Namun ku kan tetap menunggu..
Karena ku tahu..
Awan tak selalu kelabu..
Badai pasti berlalu...

Yakinku...
Waktu kan menyembuhkanku..
Langit kan kembali biru...

Menunggu New Moon...

Jakarta, 28 November 2009

Kamis, 26 November 2009

Menjamak Shalat Karena Macet

Musim hujan...Hmmmm bakalan macet ni pulang kantor..
Problema yang sering banget dihadapi di kota besar seperti di Jakarta ini adalah kemacetan. Terlebih di musim penghujan ini. Kemacetan seringkali membuat prakiraan tiba tepat waktu di rumah meleset sampai 'injury time' saat kritis waktu shalat habis karena terjebak macet, terutama Shalat Maghrib.

Berikut informasi yang menarik yang saya peroleh di sebuah blog yang berisikan pendapat ustadz Asy-Syaikh Abdullah Al Bukhari. Pendapatnya sangat bermanfaat, sehingga saya ingin mensharenya untuk teman-teman saya di facebook dan yang mengunjungi blog

Pertanyaan : Kami tinggal di kota besar yang (lalu lintasnya) senantiasa padat, terkadang seseorang terjebak dalam kemacetan selama berjam-jam sampai keluar waktu shalat, maka apa yang harus ia lakukan? Dan jika ia memperkirakan bahwa kemacetan tersebut akan panjang, bolehkah baginya menjama' dua shalat dengan jama' taqdim?

Jawab; Pada asalnya semua shalat itu dikerjakan pada waktunya, Allah SWT berfirman:

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا" (النساء – 103)"

"Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman". (Qs. An-Nisa'; 103) maka yang wajib shalat-shalat tersebut dilakukan pada waktunya seperti yang disyariatkan.

Disini penanya mengatakan bahwa ia tinggal di kota besar yang selalu macet yang seseorang terkadang berada dalam kemacetan berjam-jam lamanya hingga keluar waktu shalat. Ia tidak boleh untuk tetap didalam mobil, sepertinya yang dimaksud si penanya apabila ia tetap didalam mobil, yaitu (hukumnya) tidak boleh baginya untuk tetap di dalam mobil sampai keluar waktu shalat, shalat-shalat tersebut harus dilakukan pada waktunya sebagaimana ayat yang telah kami sebutkan tadi.

Maka apabila terjadi kondisi seperti ini dengan artian ia tetap didalam mobil sampai hampir keluar waktu shalat maka ia harus shalat pada waktunya agar tidak keluar waktu shalat, akan tetapi apakah ia melakukan shalat di dalam mobil atau diluar? Saya jawab, yang benar, jika ia mampu untuk mengerjakan shalat yang diwajibkan di luar mobil dengan menghadap kiblat maka inilah yang wajib ia kerjakan. Dan apabila ia tidak mampu dalam artian kepadatan tersebut (antara kendaraan) menempel rapat (sampai-sampai) ia tidak mampu untuk keluar dan tidak mendapatkan tempat untuk shalat, melakukan ruku' atau sujud maka jawaban kami untuk keadaan seperti ini adalah, boleh baginya melakukan shalat di atas kendaraannya yakni mobilnya dan disyaratkan baginya menghadap kiblat ketika memulai takbir, kemudian (menyempurnakan –ed) shalatnya kemana pun arah kendaraannya. Maka ruku'nya dengan merunduk dan sujudnya lebih rendah lagi, berdasarkan hadits Ya'la bin Murrah riwayat Al Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan yang lainnya, bahwa Ya'la pernah bersama Nabi SAW di tempat yang sempit lalu datanglah awan dan tanah pun basah, kemudian tiba waktu shalat, lalu nabi memerintahkan muadzin untuk mengumandangkan adzan, maka ia mengumandangkan adzan dan iqamah dan nabi pun shalat di atas kendaraanya. Ya'la berkata: "Beliau (shalat dengan –ed) merunduk dan sujudnya lebih rendah dari ruku'nya.

Pada hadist ini tidak didapatkan nabi menghadap kiblat, diantara ahlul ilmi ada yang menshahihkannya dan berpendapat dengan hadits ini, diantara mereka yang berpendapat dengan hadits ini adalah Al Imam Ahmad rahimahullah, Ishaq bin Rahawaih dan selainnya dari kalangan ulama. Dan diantara yang menshahihkannya dan mengatakan sanadnya baik adalah Al Imam An-Nawawi dan yang lainnya dan sebagian ahlul ilmi berpendapat akan lemahnya hadits ini diantara mereka adalah Al-Baihaqi. Karena itu mereka tidak mengambil hadist ini. Yang kami maksudkan adalah hendaknya ia mengerjakan sebagaimana yang terdapat didalam hadits Ya'la ini, dan saya katakan: "menghadap kiblat " hal ini adalah sebagai kehatian-hatian. Dan saya katakan ini sebagai bentuk kehati-hatian, hendaknya ia menghadap kiblat, walaupun hadits Ya'la dan yang lainnya menerangkan nabi tidak menghadap kiblat yakni tidak ada nas yang menyatakan nabi menghadap kiblat. Jika orang tersebut shalat dalam keadaan ini, maka boleh agar tidak sampai keluar waktu shalat. Tetapi kalau ia mendapatkan tempat shalat di luar mobil ia bisa shalat, ruku' dan sujud di situ maka inilah yang lebih utama dan inilah yang harus ia kerjakan.

Adapun ucapan si penanya jika ia merasa bahwa kemacetan akan lama, apakah ia boleh menjama' dua shalat secara jama' taqdim? (Perkaranya) tidak demikian, karena urusan ini kembalinya bukan kepada perasaan, dalam hal ini ada waktu-waktu yang dibatasi oleh syari'at, waktu-waktu tersebut ada awal dan ada akhirnya dengan kata lain ada waktu yang luas dan ada waktu yang sempit, maka dalam kondisi ini ia melihat antara dua waktu ini, seperti yang terdapat dalam hadits Jibril: "Diantara dua waktu ini adalah waktu-waktu shalat, diantara dua waktu ini adalah waktu-waktu shalat". Jibril shalat bersama nabi SAW sekali diawal waktu dan sekali diakhir waktu setiap shalat, kemudian berkata: "Diantara dua waktu ini adalah waktu-waktu shalat". Seperti yang datang dalam hadist yang shahih Maka perkaranya tidak kembali kepada perasaan, akan tetapi waktu-waktu (yang membatasinya) apakah ia mengetahui waktu shalat (atau tidak). Dan waktu-waktu tersebut diketahui apakah dengan cara-cara syar'i atau dengan jam dan diantaranya ada yang diketahui dengan perkiraan. Maka ia berupaya untuk shalat pada waktunya. Kondisi ini bagaimanapun bukan udzur yang membolehkan seseorang untuk menjama' shalat. Sebagaimana yang kalian ketahui jama' secara terus menerus bukan termasuk sunnah Rasulullah SAW. Diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari dari hadits Ibnu Abbas beliau SAW pernah mengerjakannya (jama') tanpa sebab rasa takut atau hujan. Ibnu Abbas RA berkata tatkala ditanya (akan hal ini): "Beliau SAW tidak ingin memberatkan umatnya" artinya bahwa hal ini (jama' –ed) boleh dikerjakan sewaktu-waktu yakni jika seseorang membutuhkannya seperi kalau sedang sakit, lelah atau ada penghalang. Adapun keluar untuk urusan-urusan dan kebutuhan (sehari-hari –ed), hal ini berlangsung terus menerus, bukankah begitu ? Dan ini akan terus berulang, saya khawatir (apabila ia menjama' dalam kondisi seperti ini –ed) ia akan mengambil keleluasaan tersebut dan mengulang-ulanginya padahal perbuatan ini bukan sunnah baginya.



Sumber :
rec tanyajawab dgn Asy-Syaikh Abdullah Al Bukhari
http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=6

Selasa, 24 November 2009

Favourite Menu @Souplus Cafe





Menu-menu favourite di Souplus Cafe

Tausiyah dari Seorang Sahabat


Tausiyah ini aku dapatkan dari seorang sahabat yang katanya juga mendapatkannya dari sahabatnya... Entah siapa yang pertama menuliskan tausiyah ini, tetapi tausiyah ini sangat mengena... Mudah-mudahan sang penulis tausiyah tidak keberatan buah pikirnya yang sangat indah ini saya share di blog ini dan di notes facebook saya..

Allah tak akan terlambat, juga tak akan lebih cepat...
Allah tahu beberapa hal yang dapat mendorongmu untuk bertahan!

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia,
Allah tahu betapa keras engkau sudah berusaha...

Ketika kau sduah mengangi sekian lama dan hatimu masih terasa pedih,
Allah sudah menghitung airmatamu,

Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja,
Allah sedang menunggu bersama denganmu

Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon,
Allah selalu berada disampingmu.

Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi,
Allah punya jawabannya

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan,
Allah dapat menenangkanmu...

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan,
Allah sedang berbisik kepadamu..

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...
Allah telah tersenyum kepadamu.

Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi,
Allah sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu..

Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap...
ALLAH MAHA TAHu...


Indah sekali bukan...
Hhhhmmm... semoga pengarang kata-kata indah ini mendapat tambahan amal ibadah karena tulisan ini sangat menenangkan sekali.